Sejak tahun 1976 sampai 1997 saya tinggal di Lasem
tepatnya di desa karangturi, waktu dulu selama tinggal disana , Lasem belum banyak
dikenal seperti sekarang ini, Semacam Pameo kalau berbicara tentang Lasem pasti
yang muncul dibenak setiap orang yang tahu adalah Lasem banyak orang Cina dan
juga banyak Santri disana. Dengan mereferensi dari berbagai sumber mala mini saya
seolah olah terbang ke masa kanak – kanak saya dengan kondisi Lasem sekarang
ini. Jadi pengen pulang rasanya, merasakan aura Lasem saat ini, tapi tak apalh
dengan sedikit Browsing di internet , saya seakan sudah berada pada kehidupan
didesa tempat saya dilahirkan.
Percampuran budaya Cina dan Jawa di Lasem, Rembang,
Jawa Tengah tak hanya berhenti pada sepotong batik tulis, dalam kehidupan
sehari-hari di daerah nilai-nilai toleransi antar etnis dan agama sangat kental
di kota yang dijuluki "Cina kecil" atau "Kota Beijing
lama kecil", dan sebutan sebagai "Kota Santri". Menyusuri
jalan-jalan kecil di Kota Lasem seperti berada di kota Beijing lama, disisi
kanan dan kiri tampak bangunan rumah-rumah dengan arsitektur khas Cina yang
dikelilingi tembok dengan gerbang bertuliskan huruf kanji yang berarti
kalimat-kalimat bijak.
Di beberapa rumah huruf-huruf kanji tersebut tampak samar karena tertutup
cat, telah dihapus, atau ditutup dengan papan. Tulisan kanji yang sama juga
terdapat di pintu Pesantren Kauman di Karangturi, Lasem, yang berisi dua pesan
yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah "Semoga panjang umur setinggi
Gunung Himalaya" dan "Semoga luwes rezekinya, sedalam Lautan
Hindia". H.M. Zaim Ahmad Ma'shoem Pembina Pondok Pesantren Kauman
mengatakan tulisan kanji tersebut telah ada ketika menempati rumah tersebut dan
memilih untuk tidak menghapusnya.
"Lho artinya
bagus kok, ya tinggal diamini saja toh," jelas
pria yang akrab disapa dengan Gus Zaim. Gus Zaim mengatakan hampir semua rumah
milik keturunan Cina di Lasem terdapat tulisan kanji di bagian pintu atau
gerbang, tetapi sebagian besar telah dihapus atau ditutup dengan papan pada
masa Orde Baru lalu. Pasca peristiwa September 1965, Orde Baru melarang semua
hal yang berkaitan dengan negeri Cina, karena negara tersebut memiliki hubungan
erat dengan Partai Komunis Indonesia PKI dan pemerintahan Sukarno.
Toleransi
ajaran Islam
Di depan pondok pesantren yang terletak ditengah
permukiman keturunan Cina ini, juga tampak beberapa lampion, menurut Gus Zaim
itu merupakan bentuk penyesuaian pesantren dengan budaya kampung setempat. "Ketika
ada masyarakat yang membutuhkan bantuan tenaga para santri akan membantu,
begitu sebaliknya, itu namanya persaudaraan," kata Gus Zaim, "Bahkan
jika ada yang meninggal saya dan para santri ikut takziah (melayat) dan
mendoakan jenazah, tidak ada masalah."
Gus
Zaim mengatakan persaudaraan antar sesama Islam, dengan sesama manusia dan juga
satu bangsa, merupakan inti dari ajaran Islam, yang wajib dijalankan secara
alami, tanpa rekayasa. "Inilah Islam, inti
dari ajaran lakum dinukum waliyadin agamamu agamamu,agamaku
agamaku, silakan laksanakan kegiatan agamamu sesuai dengan keyakinanmu dan kami
akan melaksanakan ritual agama kami dengan keyakinan kami, yang penting tidak
saling menganggu," kata dia. Menurut Gus Zaim biasanya
pemikiran radikal ataupun intoleran justru muncul jika seseorang tidak
memperkuat semangat keberagamaannya dengan ilmu. "Yang radikal-radikal itu
ilmunya dangkal, dia ga paham artinya bagaimana beragama," jelas
Gus Zaim.
Dia menjelaskan toleransi
antar etnis dan agamadi Lasem sudah terjadi sejak dulu, dan generasi sekarang
ini hanya meneruskan. Interaksi sosial yang harmonis antar etnis inilah yang
menyebabkan Lasem tidak terkena imbas kerusuhan rasial yang terjadi di Solo
Jawa Tengah pada 1980 dan 1998 lalu. Pernyataan Gus Zaim, diamini oleh
Kristianto atau yang biasa disapa Pak Semar, ketua RT yang merupakan keturunan
Cina.
"Ya tidak ada
perbedaan sama sekali, kita rukun dan saling membantu, prinsip saya ya pengen
bantu juga, yang punya kerja siapapun ya saya bantu, saya pun dibantu oleh
mereka (para santri)," jelas Pak Semar. Menurut berbagai catatan, para
pendatang dari negeri Cina tiba ke Lasem sebagai pedagang pada abad ke 15,
ketika jaman penjajahan Belanda. Mereka berbaur dengan penduduk setempat yang
beretnis jawa dan bahkan melahirkan satu motif batik yang khas Lasem.
Akulturasi
budaya dalam batik
Tangan-tangan milik sepuluh
pengrajin batik di Pabrik Batik Sekar Kencana dengan cepat memindahkan canting
wajan kecil berisi lilin panas ke selembar kain yang telah diberi pola. Lilin
panas mereka membentuk bunga-bunga dan hewan yang menjadi motif batik khas
Lasem, antara lain burung phoenix, burung merak, serta binatang mitologi Cina,
Naga. Motif hewan dan bunga khas negeri tirai bambu itu telah digunakan oleh
para pengrajin batik di Lasem secara turun temurun, seperti disampaikan oleh
Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) pemilik pabrik batik Sekar Kencana.
"Kita
menggunakan motif-motif khas negeri Cina sudah sejak dulu, sejak jaman
penjajahan Belanda, tepatnya tak ada yang mengetahuinya, memang motif tersebut
diperkenalkan oleh keturunan Cina yang datang ke Lasem," jelas Sigit yang
kini berusia 86 tahun. Nenek Moyang Sigit berasal dari Provinsi Hokkian Cina,
yang hijrah ke Lasem pada 1740 an. Usaha batik diteruskan dari ayahnya yang
dulu memasok kain batik sampai ke Malaysia. Sigit mengatakan motif batik Lasem
merupakan bentuk dari akulturasi budaya Cina dan Jawa. "Ada motif yang
bernuansa Cina dan juga ada pengaruh dari daerah penghasil batik lain di Jawa,
tetapi yang khas adalah warnanya yaitu merah darah ayam atau abang getih pitik,"
jelas Sigit. Menurut Sigit, percampuran kedua budaya yang terjadi sejak dulu
menyebabkan Lasem menjadi daerah yang sarat dengan nilai-nilai toleransi.
"Tidak
ada yang membedakan Cina dan Jawa, contoh saya telah menikah lebih dari 50
tahun dengan istri saya Marpat keturunan Jawa, dan anak-anak kami pun memiliki
agama yang berbeda, tetapi tidak pernah ada bentrokan, " jelas Sigit. Toleransi
antar etnis, menurut Sigit terjadi karena masyarakat Lasem saling menghormati
keyakinan masing-masing. Sebagai pengrajin batik, Sigit pernah membuat hiasan
batik dengan tulisan "Allahu Akbar" dan "Muhammad" dengan
proses meluruhkan lilin dengan tangan, padahal biasanya proses tersebut
dilakukan dengan kaki. Kain hiasan dinding tersebut kini dipajang di pesantren
Kauman, pimpinan Gus Zaim.
Gus Zaim mengatakan nilai toleransi itu menjadi sebuah tata kehidupan
dalam diri sendiri bukan suatu tugas tetapi kewajiban yang mesti dilakukan
tanpa harus ada sebuah pelajaran harus praktek.




Tidak ada komentar