Bersamaan
dengan datangnya orang Tionghoa di Lasem pada permulaan abad 15 diperkirakan
kelenteng yang sekarang ini kita kenal dengan nama Ci An Gong ( atau Cu An
Kiong yang berarti Istana Ketentraman Bunda ) mulaii didirikan. Tahun yang
persis tidak diketahui. Perlu diketahui orang-orang Tionghoa yang pada waktu
itu datang umumnya bukan orang terpelajar, hanya sedikit saja yang tahu tulis
menulis, sehingga tidak ada catatan-catatannya yang ditinggalkan. Hanya
diperkirakan sekitar tahun 1450, sebab pada peta Belanda yang mencatat
perkembangan kota Lasem tahun 1500, kelenteng itu telah tertera, berada di
sekitar pemukiman Tionghoa disepanjang sungaii Babagan ke arah Dasun dan
Soditan.
Pada
prasasti yang tertua (inskripsi dari batu) di dalam klenteng tersebut
dijelaskan bahwa
pada tahun 1838, atas prakarsa dari Kapitein Lin Changling diadakan perbaikan bangunan atas klenteng tersebut. Pada batu peringatan tersebut tercantum nama 105 orang penyumbang.
pada tahun 1838, atas prakarsa dari Kapitein Lin Changling diadakan perbaikan bangunan atas klenteng tersebut. Pada batu peringatan tersebut tercantum nama 105 orang penyumbang.
Seperti pada umumnya kelenteng, pada awalnya Ci An Gong ini
berdinding dan beratap rumbia, kemudian setelah kehidupan mulai mapan dan
kegiatan ekonomi berkembang, dan berhasil dikumpulkan untuk memugar dengan
bentuk yang lebih baik dengan mendatangkan tukang-tukang ukir darii Guangdong
(Kwitang ). Banyak dari tukang-tukang ukir ini kemudian bermukim di Kudus dan
menerima murid-murid dari kalangan penduduk setempat. Nama-nama empu ukir itu
seperti Tee Ling Sing dan Tiang Sun Khing diabadikan menjadi nama kampung
seperti Sunggingan dan Kyai Telingsing.
Pada waktu akan
memasuki Klenteng Tjoe An Kiong, pengunjung akan
melewati halaman klenteng yang cukup luas yang sudah dipasangi paving block. Menoleh ke kanan sebentar,
pengunjung akan menjumpai sebuah menara yang terbuat dari tiang besi (kie kwa) yang dulu berfungsi sebagai
penunjuk arah bagi para nelayan. Lalu, searah mata memandang saat masuk halaman
klenteng, ada gapura besar atau shan
men yang menjadi pintu masuk ke bangunan klenteng.
Ragam ornamen
khas Tiongkok menghiasi gapura, seperti dua buah naga (xing
long) yang saling berhadapan dengan huo
zhu, mutiara Buddha berbentuk bola api, di antara kedua naga tersebut.
Pada balok pintu gerbang tersebut tertulis nama klenteng dalam aksara Tionghoa,
sedangkan pada kedua kolomnya bertuliskan puji-pujian yang diperuntukkan bagi Mak Co atau Thian Siang Sing Bo (dewi
utama yang dipuja di klenteng tersebut).
Di depan gapura terdapat dua
patung singa berwarna emas bergaya Barat dan dua tokoh yang masing-masing
membawa senjata dan seolah menjadi penjaga klenteng. Gapura atau pintu gerbang
ini didirikan atas prakarsa dari Kapitein Oei
Ek Thay pada tahun 1922, kemudian diperbaiki lagi pada tahun 1950 dan awal
tahun 1960-an.
Arsitekturnya
memiliki kemiripan dengan Lawang Ombo atau lebih dikenal dengan Omah Candu yang
letaknya bersebelahan dan menghadap Sungai Lasem. Keduanya beratap ekor
burung walet, khas dari bangunan Fujian, salah satu wilayah di Tiongkok
bagian selatan. Jika menelusuri Kampung Soditan yang berjarak tak jauh dari
Klenteng Cu An Kiong, sebagian besar rumah-rumah lama di sana juga memiliki
atap seperti ekor burung walet. Itu salah satu bukti bahwa Kampung Soditan bisa
dibilang menjadi permukiman pertama bagi para perantau dari Tiongkok di Lasem.
Ukiran halus pintu dan jendela pembatas
terbuat dari kayu di Klenteng Cu An Kiong yang paling menarik perhatian saya.
Jika benar bangunan asli tempat pemujaan dewi laut Thian Siang Sing Bo atau Mak Co ini berusia lebih dari empat ratus
tahun maka arsiteknya patut diacungi jempol. Pondasi utamanya masih kokoh,
tidak menunjukkan kerapuhan. Warna hitam dari tinta khusus di lukisan yang
deret keramiknya tertempel di dinding ruang tengah pun masih terlihat indah dan
jelas.
Kelenteng Cu An Kiong mengalami pemugaran beberapa kali yang
terakhir 1868. Sebagai salah satu kelenteng pemujaan Dewi Ma Zu yang tertua di
Jawa, kelenteng ini perlu dilestarikan dan di jaga terus keberadaanya agar bisa
menjadi warisan sejarah dan peringatan bagaimana perjuangan pendahulu-pendahulu
kita dalam membangun kehidupan yang sejahtera dii negeri ini.


Tidak ada komentar