Sebuah makam yang terletak di
Desa Babagan Lasem, dengan batu nisan (bong) yang dicat warna putih dengan
penegas aksara Cina berwarna hitam menjadi penanda berkembangnya kisah mistis
yang dituturkan sejak berabad silam. Kutukan abadi Han Wee Sing untuk keturunannya
yang berani tinggal di Lasem akan mengalami kesialan. Bagi laki-laki akan
bangkrut bila berbisnis, yang perempuan tak akan punya keturunan. Begitu
masifnya kisah kutukan ini sampai-sampai tersebar kisah keturunan Han jika
bepergian tidak akan melintasi Lasem, baik jalur darat maupun jalur udara!.
Kisah legenda Han Wee Sing di
Lasem merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung
ke Lasem. Dikisahkan Han Wee Sing merupakan saudagar kaya yang memiliki dua
anak laki-laki. Ia dikenal sebagai pekerja keras, suka membantu orang di
sekitarnya, dan tak suka menghamburkan kekayaannya di meja judi atau untuk jual
beli candu. Karakternya yang berintegritas ini rupanya tak diikuti oleh kedua
anak lelakinya Han Te Su dan Han Te Ngo yang suka berjudi. Anak-anak Han Wee
Sing yang gemar beradu dadu rupanya mengakibatkan keluarga Han jatuh miskin.
Sang ayah wafat dengan membawa derita dan nelangsa.
Bangkrutnya Han Wee Sing
menyebabkan pemakamannya tak kunjung terlaksana. Uang sumbangan para pelayat
pun masih saja digunakan anak-anaknya untuk bertaruh nasib di meja judi. Suatu
hari, anak-anaknya membungkus jenasah Han Wee Sing dan bermaksud menguburkannya
dengan cara seperti itu. Dalam perjalanan menuju tanah makam, rombongan yang
membawa jenasah dirundung mendung. Awan hitam menggelantung. Tak lama hujan
petir menyambar dan jenasah ditinggalkan begitu saja. Ketika mereda, muncul
gundukan tanah makam.
Tak lama berselang, terdengar
suara mengutuk datang dari dalam makam itu yang menyebutkan bahwa keturunan Han
tidak boleh tinggal di Lasem. Apabila melanggar akan jatuh miskin. Kemudian,
kedua pemuda Han ini berlari meninggalkan Lasem.
Keturunan Han menyebar di beberapa
kota besar, terutama Surabaya. Tengoklah rumah abu keluarga Han di Surabaya, ya
dari Lasemlah mereka berasal! Legenda ini sampai sekarang masih terus
berdengung dan menjadi semacam urban legend di Lasem. Daya
mistisnya justru menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk mendatangi makam di
Lasem ini. Siapakah Han Wee Sing sesungguhnya? Mari, saya mengajak Anda membaca
nisan legendaris tersebut. Nama yang tertera dalam nisan itu adalah Han Du
Chun. Ia dikenal dengan nama Han Siong Kong.
Pada nisan tersebut tertera informasi
waktu pendirian nisan yaitu tahun ke-33 masa pemerintahan Kaisar Qian Long
(1735-1796) dari Dinasti Qing, tepatnya tahun 1768. Informasi selanjutnya
menyebutkan bahwa Han De Chun berasal dari Tian Bao (Fujian) dan pada saat
nisan itu dibuat, Ia memiliki lima orang anak laki-laki, belasan cucu dan tiga
orang buyut. Sejatinya, pada 1991, Claudine Salmon telah mempublikasikan
artikelnya yang berjudul “The Han Family of East Java Entrepreuneurship and
Politics (18th-19th Century)” dalam
jurnal Archipel volume 41. Salmon melacak asal-usul keluarga
Han di Pulau Jawa sampai ke Tianbao, Zhangzhou-Fujian, tempat nenek moyang
marga Han berasal. Didapatinya rumah keluarga Han Siong Kong terletak di daerah
Ximenzhai, Tianbao-Fujian.
Han Siong Kong lahir di Lubianshe,
Tianbao, pada tahun 1673. Menurut Salmon yang membaca papan arwah di Rumah Abu
Keluarga Han – Surabaya, Han Siong Kong menetap di Lasem dan meninggal di
Rajegwesi (sekarang Bojonegoro) pada tahun 1743. Selanjutnya Salmon yang
menggali tradisi lisan lokal menyebutkan bahwa pada saat pemakaman Han Siong
Kong, terjadi hujan lebat dan petir hebat. Peti mati Han Siong Kong dibiarkan
teronggok di jalanan karena para pengantar jenasah berhamburan mencari tempat
berteduh. Cerita berlanjut dengan terkuburnya peti mati tersebut secara
misterius.
Konon, arwah Han Siong Kong mengutuk keturunannya karena
tidak berbakti dengan menelantarkannya di jalanan. Sejak saat itu, keturunan
Han dipercaya meninggalkan Lasem. Namun ternyata Han Tjoe Kong dan Han Kien
Kong, dua anak lelaki tertua Han Siong Kong, memilih tetap tinggal di Lasem.
Sementara Han Bwee Kong menuju Surabaya dan menjadi Kapitan Cina.
Seorang anak Han yang bernama Han
Tjien Kong beragama Islam, memiliki nama Soero Pernollo dan menetap di Besuki.
Demikian pula Han Hien Kong yang turut bermukim di Besuki. Sedangkan kedua
putri Han Siong Kong yaitu Pien Nio dan Poen Nio tidak diceritakan lebih
lanjut. Menurut catatan keluarga Han di Surabaya, kelima anak Han Siong Kong lahir
di Lasem. Namun, tiada papan arwah sang ibunda di Rumah Abu Keluarga Han,
Surabaya. Diduga, istri Han Siong Kong adalah wanita asal Lasem—bukan keturunan
Cina.
Kisah Han Wee Sing seolah turut
menjadi magnet Lasem, menjadi wacana alternatif penyokong sejarah Lasem. Sekali
lagi, Lasem menjadi salah satu tempat yang layak untuk diperjuangkan menjadi
daerah cagar budaya nasional mengingat begitu banyak warisan tinggalan leluhur:
bangunan, akulturasi budaya sampai kumpulan kolektif memori. Kisah keberadaan
Han Siong Kong salah satunya, tak dapat disangkal sebagai salah satu kisah
pusaka Lasem.

1 komentar
Catatan sejarah(?) yg sangat menarik untuk disimak. Mhn informasi dimana & bagaimana bisa baca lebih lengkap hasil penelitian terhadap keluarga *Han* yg pernah hidup di Lasem?