Klenteng Gie Yong Bio merupakan salah satu dari banyak
klenteng di Lasem. Klenteng ini berlokasi di desa Bagan berjarak sekitar 50
meter sampai 70 meter dari pantura. Didirikannya klenteng ini adalah untuk
mengenang jasa seorang pribumi yaitu Raden Panji Margono yang telah berjuang
dalam sebuah perang bernama Perang Kuning. Di dalam ruangan ini terdapata satu
ruangan yang difungsikan untuk penyembahan Raden Panji Margono. Didirikan pada
1780, klenteng ini menandakan keharmonisan antara Tionghoa dan Pribumi. Selain
berjasa dalam Perang Kuning, Raden Panji Margono juga berjasa dalam
menyelamatkan dan menyediakan tempat untuk orang - orang Tionghoa yang
menyelamatkan diri dari pembantaian VOC di Batavia dan memberikan tempat di
Lasem.
Menurut informasi yang
diperoleh, Klenteng Gie Yong Bio ini dibangun pada tahun 1780. Awalnya berada
di jalan raya, namun kemudian dipindah ke Jalan Babagan ini. Aslinya klenteng
ini menghadap ke arah timur. Tapi setelah Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels bertambah
ramai maka orientasinya dihadapkan ke jalan raya, yaitu ke arah utara.
Perpindahan orientasi ini dilakukan bertepatan dengan perbaikan klenteng
tersebut yang dilakukan pada tahun 1915.
Klenteng ini didirikan
untuk menghormati 3 serangkai pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat
dan Raden Panji Margono, yang menghadapi VOC pada tahun 1741-1750. Perang
tersebut terkenal dengan nama Perang Godou Balik. Tan Kee Wie gugur ketika
armada kapalnya ditenggelamkan dengan tembakan meriam VOC di selat antara Ujung
Watu dan Pulau Mandalika. Oey Ing Kiat, seorang Majoor de Chineezen,
gugur di Layur, sedangkan Raden Panji Margono gugur di Karangpace, Narukan.
Untuk menghargai jasa-jasa
kepahlawanan mereka, masyarakat Tionghoa di Lasem membangun Klenteng Gie Yong
Bio sebagai monumen peringatan. Ketiganya dihormati sebagai Kong Co dan
dibuat rupangnya untuk diletakkan di atas altar. Rupang Tan Kee Wie dan Oey Ing
Kiat diletakkan berdampingan, sementara rupang Raden Panji Margono diletakkan
pada altar khusus terpisah. Sehingga, Klenteng Gie Yong Bio mempunyai
patung Kong Co yang tidak dimiliki oleh klenteng yang lain,
baik di wilayah Lasem maupun di tempat yang lain, seperti Juwana, Pati, Kudus
dan Semarang. Berawal dari situlah, Klenteng Gie Yong Bio dikenal sebagai
“Klenteng Pembauran” di mana sosok Raden Panji Margono dijuluki sebagai “Kong
Co Jawa”, Kong Co pribumi satu-satunya di Indonesia.
Klenteng ini tidak terlalu
besar, akan tetapi mempunyai halaman yang cukup luas dan berpagar. Dari halaman
tersebut ada gerbang menuju ke bangunan klenteng berbentuk paduraksa khas
Tiongkok berwarna pink, yang di depannya terdapat dua patung singa
(hanzi) yang menoleh ke kiri dan ke kanan. Selepas melewati
gerbang paduraksa, pengunjung sudah berada di halaman bangunan utama
klenteng. Tepat di depan pintu utama masuk klenteng terdapat hiolo (tempat
menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Kemudian masuk
bangunan utama klenteng, pengunjung akan menjumpai sejumlah altar untuk
persembahyangan.
Klenteng Gie Yong Bio merupakan tempat ibadah
penganut Tri Dharma, sehingga klenteng ini berfungsi integratif sebagai tempat
ibadah penganut Buddha, Tao dan Konfusius. Selain ketiga Kong Co yang sudah
disebutkan di atas, masih ada altar sejumlah dewa yang dimuliakan di klenteng
tersebut, seperti Dewa Bumi Hok Tek Ceng Sin, Konfusius, Lao
Tzu maupun Dewi Kemurahan (Kuan Yin).

Tidak ada komentar